Rabu, 13 Mei 2009

artikel

Laporan tentang Penciptaan dan Evolusi oleh Panitia Kebudayaan, Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan, Sidang Parlemen Dewan Eropa adalah Bukti Kepanikan Serius di Kalangan Materialis
Laporan tentang Penciptaan dan Evolusi oleh Panitia Kebudayaan, Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan, Sidang Parlemen Dewan Eropa adalah Bukti Kepanikan Serius di Kalangan Materialis
Kedatangan karya besar Harun Yahya “Atlas Penciptaan” di Eropa telah memunculkan kepanikan besar di kalangan kaum materialis dan Darwinis di seantero benua itu. Mereka berkata bahwa Atlas Penciptaan, yang mereka katakan tidak memiliki kemiripan dengan karya mana pun yang menentang evolusi yang mereka saksikan sebelumnya, adalah ancaman yang jauh lebih besar dari sudut pandang sistem pemikiran mereka sendiri dibandingkan seluruh karya anti-Darwinis lain hingga kini; sedemikian hingga mereka bahkan benar-benar berupaya melarang buku tersebut.
Tidak ada keraguan bahwa ketakutan ini adalah bukti terpenting tentang kebenaran dan nilai penting informasi dalam Atlas tersebut. Penemuan-penemuan ilmiah dalam buku itu, yang meruntuhkan evolusi, telah menyadarkan banyak orang Eropa bahwa bertahun-tahun mereka telah dibohongi. Misalnya, sebuah jajak pendapat baru-baru ini oleh Science Actualités di Prancis menyingkapkan bahwa 92% orang tidak yakin bahwa manusia muncul menjadi ada melalui evolusi, sedangkan hanya 5% percaya evolusi.
Masyarakat Eropa, yang telah mulai sadar bahwa evolusi adalah dongeng yang disebabkan keterbelakangan abad ke-19, kini telah menyaksikan, dengan bukti melimpah yang mendukung, bahwa Penciptaan telah dibuktikan. Awal pencerahan pemikiran di Eropa ini telah menimbulkan kegelisahan mendalam di kalangan kelompok materialis, ateis dan Darwinis. Salah satu isyarat terakhir dari kegelisahan ini adalah laporan yang disusun Panitia Kebudayaan, Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan, Sidang Parlemen Dewan Eropa. Dokumen ini, yang berjudul “The Dangers of Creationism in Education“ (Bahaya Paham Penciptaan dalam Pendidikan), disusun oleh penganut paham sosialis asal Prancis Guy Lengagne. Keputusasaan mereka di hadapan bukti bahwa evolusi tidaklah ilmiah jelas terlihat hampir di setiap baris laporan itu.
(Petikan langsung dari laporan itu dikutip di bawah ini. Sudah pasti Allah dan kaum beriman terbebas dari pernyataan mana pun di dalamnya yang tidak memperhatikan penghargaan dan penghormatan semestinya.)
1- Panitia tersebut memaparkan bagaimana keyakinan terhadap evolusi telah menurun dan semakin banyak orang menerima fakta Penciptaan di Eropa di tahun-tahun belakangan:
Butir 2
… Kini teori-teori penganut paham penciptaan cenderung merambah Eropa dan penyebarannya berpengaruh pada sejumlah besar negara anggota Dewan Eropa.

2- Alasan upaya mempertahankan Darwinisme agar tetap hidup adalah dukungan yang dianggap ilmiah yang diberikannya bagi paham materialisme. Keruntuhan Darwinisme bermakna hilangnya satu dari landasan-landasan utama paham materialisme dan ateisme. Laporan tersebut benar-benar menggambarkan bagaimana pengajaran Penciptaan telah melemahkan cara pandang, dengan kata lain paham materialisme, “yang dengan sabar telah dibangun” selama bertahun-tahun:
Butir 5
Kita sedang menyaksikan tumbuhnya pola pemikiran, yang lebih baik untuk menanamkan ajaran agama, yang sedang menyerang bagian paling inti dari pengetahuan yang dengan sabar telah kita bangun tentang alam kehidupan, evolusi, asal usul kita dan kedudukan kita di alam semesta.
3- Ada kekhawatiran nyata dalam laporan tersebut bahwa orang-orang muda mulai menyaksikan kebenaran. Apa yang diistilahkan sebagai “kebingungan pemikiran” sesungguhnya adalah kewaspadaan dalam berpikir. Akal yang telah dilumpuhkan oleh propaganda materialis, ditipu oleh kebohongan-kebohongan evolusionis, dan diajari berpikir hanya dalam satu arah, kini mulai berpikir tanpa prasangka dan menyaksikan bahwa evolusi tidaklah didukung oleh ilmu pengetahuan:
Butir 6
Terdapat bahaya nyata berupa KEBINGUNGAN SERIUS yang sedang ditanamkan ke dalam benak anak-anak kita… [penekanan ditambahkan]

4- Isyarat bahwa orang-orang mulai memiliki keraguan tentang teori evolusi, yang telah ditampilkan sebagai fakta tak terbantahkan selama 150 tahun terakhir, adalah satu di antara tanda-tanda terpenting keruntuhan evolusi. Ketika mereka yang merasakan kecurigaan yang beralasan seperti itu mulai mengkaji dan menyelidiki masalah tersebut sedikit lebih dalam mereka akan menyadari betapa mereka bertahun-tahun telah dibohongi oleh dongeng evolusi. Itulah penyebab bunyi tanda bahaya para Darwinis:
Butir 9
… Melalui sarana-sarana ini para pendukung penciptaan … menanamkan keraguan dan kebingungan di dalam benak mereka.

5- Laporan itu menyatakan bahwa ini adalah kali pertama peradaban materialis Eropa telah menghadapi ancaman sedemikian serius. Ini, selanjutnya, adalah bukti ketepatan dan kekuatan informasi yang terkandung dalam buku Atlas Penciptaan. Informasi dalam buku tersebut telah mendorong kaum materialis mengambil tindakan pencegahan dalam berbagai bentuk untuk kali pertama:
Butir 17
Penelitian tentang pengaruh menguat para pendukung penciptaan menunjukkan bahwa silang-pendapat antara paham penciptaan dan evolusi melebar jauh melebihi perseteruan pemikiran. Jika kita tidak hati-hati, nilai-nilai yang merupakan hal paling hakiki dari Dewan Eropa akan berada dalam ancaman langsung para fundamentalis pendukung penciptaan. Adalah bagian dari peran anggota parlemen Dewan Eropa untuk bertindak sebelum terlalu terlambat.

6- Rendahnya jumlah penganut Darwinisme di negara-negara berbahasa Inggris seperti Amerika Serikat dan Australia adalah kenyataan yang membuat para Darwinis sangat cemas:
Butir 37
Namun begitu, paham penciptaan (atau paham penciptaan baru) masih sangat mapan di negara-negara berbahasa Inggris, khususnya di Amerika Serikat dan Australia. … Di bulan Juli 2005, Pew Research Center mengadakan jajak pendapat yang menunjukkan bahwa 64% warga Amerika memilih pengajaran perancangan cerdas disamping teori evolusi dan bahwa 38% mendukung penghapusan sama sekali pengajaran evolusi di sekolah-sekolah milik umum. ... Kini, 20 dari 50 negara bagian Amerika sedang menghadapi kemungkinan penyesuaian kurikulum sekolahnya yang memihak perancangan cerdas.

7- Namun, penyebab sesungguhnya ketakutan di kalangan materialis adalah kenyataan bahwa peradaban materialis Eropa yang didasarkan pada Darwinisme sebentar lagi akan lenyap. Di mata kaum materialis, karya-karya yang menyingkap ketidakabsahan paham materialisme merupakan “ancaman” paling serius terhadap rencana-rencana Eropa.
Butir 38
Banyak orang berpikir bahwa fenomena ini hanya menimpa Amerika Serikat dan bahwa, kalaulah tidak mungkin berdiam diri terhadap apa yang sedang terjadi di sisi lain Samudera Atlantik, bukanlah tugas Dewan Eropa untuk menangani masalah ini. Namun tidaklah demikian. Sebaliknya, tampaknya sangat mendesak bagi kita untuk mengambil tindakan pencegahan semestinya di 47 negara anggota kita.

8- Satu di antara hal yang secara khusus dicermati para Darwinis adalah kegiatan intelektual yang dilakukan kalangan Muslim sejak tahun 1980-an yang secara intelektual menghancurkan Darwinisme.
Butir 39
Di samping paham penciptaan Kristen kini terdapat paham penciptaan Muslim: pembuktian paham penciptaan dari sumber Kristen diterima luas di kalangan Muslim seiring dengan kebangkitan pergerakan Islam di awal tahun 1980-an.

9- Buku Adnan Oktar “Atlas Penciptaan” secara khusus dianggap berbahaya bagi Darwinisme. Buku ini telah sampai di negara-negara Eropa dan telah menimbulkan kepanikan serius di kalangan Darwinis:
Butir 40
… Alhasil, kita telah menyaksikan beberapa upaya dari berbagai pergerakan ini di benua Eropa-Asia di beberapa tahun terakhir, dengan sekolah-sekolah terlihat sebagai sasaran utama. Awal 2007 menyaksikan serangan penganut penciptaan Turki Harun Yahya, yang mengirimkan karya terakhir dan sangat-mewahnya, berjudul “Atlas Penciptaan”, yang menyatakan kecaman terhadap kebohongan teori evolusi, ke sejumlah besar sekolah Prancis, Belgia, Spanyol dan Swiss....

10- Dampak buku Atlas Penciptaan di Eropa dan karya-karya lain Adnan Oktar yang melemahkan Darwinisme di Turki dipaparkan di paragraf-paragraf lain laporan itu:
Butir 54
Dai Islam Turki Harun Yahya, yang nama aslinya Adnan Oktar, adalah satu di antara tokoh yang paling melambangkan gerakan ini. Ia berusia sekitar lima puluh tahun dan telah menerbitkan karya-karya tentang penciptaan atau agama selama sekitar dua puluh tahun. Ia juga memiliki rumah penerbitan sendiri, Global, yang berkantor pusat di Istanbul. Pada tahun 1991, Oktar mendirkan yayasan ilmu pengetahuan dan penelitian Bilim Arastirma Vakfi (BAV). Sejak pendiriannya, BAV sangatlah giat berupaya agar paparan apa pun tentang evolusi dihilangkan dari pendidikan Turki. Yayasan ini juga menyelenggarakan banyak konferensi tentang paham penciptaan di kota-kota kecil dan besar penting di Turki. …
Butir 55
Karya terkini Harun Yahya muncul di bulan Desember 2006 dan diberi judul “Atlas Penciptaan”. Ini adalah buku besar dan jilid pertama dari serangkaian tujuh jilid. Buku ini berupaya menyanggah Darwinisme dan teori evolusi dalam 772 halaman penuh gambar. Kesimpulannya jelas: “penciptaan adalah fakta” and “evolusi adalah penipuan”. Lebih jauh, sang pengarang mengecam tajam “kaitan rahasia antara Darwinisme dan ideologi-ideologi penumpah darah, seperti fasisme dan komunisme”. Di awal tahun 2007 Yahya melancarkan serangan dengan tujuan penyebarluasan besar-besaran karyanya di Eropa dan seluruh dunia.
Di Prancis:
Butir 57
Serangan Harun Yahya: Di awal 2007, penganut penciptaan Turki Harun Yahya mengirimkan karyanya yang berjudul “Atlas Penciptaan” ke sejumlah besar sekolah dan pusat informasi Prancis. …
11- Tak punya sanggahan ilmiah apa pun terhadap isi buku Atlas Penciptaan, para Darwinis menggunakan watak Abad Pertengahan dan berupaya melarang buku tersebut. Namun sesungguhnya pemikiran tidak dapat dihentikan dengan cara melarangnya. Pada kenyataannya, yang menyebabkan kepanikan itu di kalangan kaum materialis Eropa adalah karena mereka telah menyaksikan keruntuhan evolusi yang tak dapat dicegah.
Butir 57
… Sebagai tanggapan, Menteri Pendidikan, Gilles de Robien, menyeru para kepala kantor pendidikan agar memastikan bahwa buku ini "yang tidak sesuai dengan isi kurikulum yang dirumuskan oleh Kementerian, tidak tersedia di pusat-pusat informasi di sekolah”. Hervé LeGuyader, Profesor Biologi Evolusi di Universitas Paris VI, ditugaskan oleh Inspektorat Pendidikan Nasional Umum untuk membuat telaah rinci terhadap atlas ini. …

12- Ini adalah kali pertama mereka mendapati sebuah buku yang sedemikian telak meruntuhkan evolusi yang dipenuhi bukti-bukti yang mendukung, hingga mengguncang para Darwinis. Kenyataan bahwa informasi yang dikandung dalam buku tersebut tak terbantahkan telah mengejutkan para Darwinis, yang mengakuinya sendiri:
Butir 57
… Ia [Hervé LeGuyader]menganggap buku tersebut “JAUH LEBIH BERBAHAYA daripada upaya-upaya penganut penciptaan sebelumnya, yang seringkali berasal dari Inggris”. Ia yakin bahwa ...cara yang digunakan sang pengarang dapat “TERBUKTI SANGAT MENGENA untuk masyarakat awam. … [penekanan ditambahkan]

13- Keadaannya sama di banyak negara Eropa. Atlas Penciptaan telah sampai di banyak negara. Dihadapkan pada bukti nyata dalam Atlas Penciptaan dan tidak mampu memberikan sanggahan ilmiah apa pun, kaum Darwinis berupaya agar buku tersebut dilarang.
Butir 59
Kegiatan Harun Yahya di Swiss berbahasa Prancis: Di bulan Maret 2007, sejumlah besar sekolah di Swiss berbahasa Prancis juga menerima karya Harun Yahya “Atlas Penciptaan”. …
Butir 63
Upaya pendukung penciptaan menyusup ke sekolah-sekolah Belgia: Setelah Prancis, dan bersamaan dengan serangan di Swiss, Harun Yahya melancarkan penyebarluasan Atlas Penciptaannya di Belgia di bulan Maret 2007. Dalam surat edaran tertanggal 22 Maret 2007, Marie Arena, Menteri urusan pendidikan wajib dan pembangunan sosial, memperingatkan “seluruh pegawai pendidikan tentang nilai-nilai yang dianjurkan oleh buku ini” dan kemudian berkata bahwa ia “mengandalkan setiap orang agar WASPADA [...] untuk memastikan bahwa [buku] itu bagaimana pun tidak (boleh) menjadi satu sarana pendidikan bagi murid-murid” [penekanan ditambahkan]
Butir 74
Sebulan setelah Prancis, Atlas Penciptaan Harun Yahya diterima oleh sejumlah profesor di fakultas biologi Universitas Barcelona dan oleh perpustakaan universitas itu.

14- Bagian akhir laporan itu sekali lagi menegaskan bagaimana peradaban materialis Eropa berada dalam ancaman besar. Isyarat bagaimana Darwinisme didukung karena alasan ideologis terlihat jelas. Apa yang dimaksud laporan tersebut dengan kata-kata “bertindak sebelum hal itu terlalu terlambat ” adalah kekhawatiran atas kehancuran mutlak Darwinisme, dan yang berarti pula terhapusnya materialisme secara menyeluruh.
Butir 104
Pengkajian terperinci tentang PENGARUH MENGUAT PARA PENDUKUNG PENCIPTAAN menunjukkan bahwa perbincangan antara paham penciptaan dan paham evolusi melebar jauh melebihi perseteruan pemikiran. Jika kita tidak hati-hati, nilai-nilai yang merupakan hal paling hakiki dari Dewan Eropa akan berada dalam bahaya ancaman langsung oleh para fundamentalis pendukung penciptaan. Adalah bagian dari peran anggota parlemen Dewan Eropa untuk bertindak sebelum terlalu terlambat. [penekanan ditambahkan]

Rabu, 29 April 2009

peradilan rakyat

Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum.

"Tapi aku datang tidak sebagai putramu," kata pengacara muda itu, "aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini."

Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung.

"Apa yang ingin kamu tentang, anak muda?"
Pengacara muda tertegun. "Ayahanda bertanya kepadaku?"
"Ya, kepada kamu, bukan sebagai putraku, tetapi kamu sebagai ujung
tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini."
Pengacara muda itu tersenyum.
"Baik, kalau begitu, Anda mengerti maksudku."

"Tentu saja. Aku juga pernah muda seperti kamu. Dan aku juga berani, kalau perlu kurang ajar. Aku pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan. Tidak seperti para pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Bahkan tidak seperti para elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan, namun menjadi lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya. Kamu pasti tidak terlalu jauh dari keadaanku waktu masih muda. Kamu sudah membaca riwayat hidupku yang belum lama ini ditulis di sebuah kampus di luar negeri bukan? Mereka menyebutku Singa Lapar. Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuri-pencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedung-gedung bertingkat. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu."

Pengacara muda itu tersenyum. Ia mengangkat dagunya, mencoba memandang pejuang keadilan yang kini seperti macan ompong itu, meskipun sisa-sisa keperkasaannya masih terasa.

"Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri."

Pengacara tua itu meringis.
"Aku suka kau menyebut dirimu aku dan memanggilku kau. Berarti kita bisa bicara sungguh-sungguh sebagai profesional, Pemburu Keadilan."
"Itu semua juga tidak lepas dari hasil gemblenganmu yang tidak kenal ampun!"
Pengacara tua itu tertawa.
"Kau sudah mulai lagi dengan puji-pujianmu!" potong pengacara tua.
Pengacara muda terkejut. Ia tersadar pada kekeliruannya lalu minta maaf.

"Tidak apa. Jangan surut. Katakan saja apa yang hendak kamu katakan," sambung pengacara tua menenangkan, sembari mengangkat tangan, menikmati juga pujian itu, "jangan membatasi dirimu sendiri. Jangan membunuh diri dengan diskripsi-diskripsi yang akan menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam, karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini."

Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang.

"Aku datang kemari ingin mendengar suaramu. Aku mau berdialog."
"Baik. Mulailah. Berbicaralah sebebas-bebasnya."

"Terima kasih. Begini. Belum lama ini negara menugaskan aku untuk membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Pihak keluarga pun datang dengan gembira ke rumahku untuk mengungkapkan kebahagiannya, bahwa pada akhirnya negara cukup adil, karena memberikan seorang pembela kelas satu untuk mereka. Tetapi aku tolak mentah-mentah. Kenapa? Karena aku yakin, negara tidak benar-benar menugaskan aku untuk membelanya. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler, bahwa di negeri yang sangat tercela hukumnya ini, sudah ada kebangkitan baru. Penjahat yang paling kejam, sudah diberikan seorang pembela yang perkasa seperti Mike Tyson, itu bukan istilahku, aku pinjam dari apa yang diobral para pengamat keadilan di koran untuk semua sepak-terjangku, sebab aku selalu berhasil memenangkan semua perkara yang aku tangani.

Aku ingin berkata tidak kepada negara, karena pencarian keadilan tak boleh menjadi sebuah teater, tetapi mutlak hanya pencarian keadilan yang kalau perlu dingin danbeku. Tapi negara terus juga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. Di situ aku mulai berpikir. Tak mungkin semua itu tanpa alasan. Lalu aku melakukan investigasi yang mendalam dan kutemukan faktanya. Walhasil, kesimpulanku, negara sudah memainkan sandiwara. Negara ingin menunjukkan kepada rakyat dan dunia, bahwa kejahatan dibela oleh siapa pun, tetap kejahatan. Bila negara tetap dapat menjebloskan bangsat itu sampai ke titik terakhirnya hukuman tembak mati, walaupun sudah dibela oleh tim pembela seperti aku, maka negara akan mendapatkan kemenangan ganda, karena kemenangan itu pastilah kemenangan yang telak dan bersih, karena aku yang menjadi jaminannya. Negara hendak menjadikan aku sebagai pecundang. Dan itulah yang aku tentang.

Negara harusnya percaya bahwa menegakkan keadilan tidak bisa lain harus dengan keadilan yang bersih, sebagaimana yang sudah Anda lakukan selama ini."

Pengacara muda itu berhenti sebentar untuk memberikan waktu pengacara senior itu menyimak. Kemudian ia melanjutkan.

"Tapi aku datang kemari bukan untuk minta pertimbanganmu, apakah keputusanku untuk menolak itu tepat atau tidak. Aku datang kemari karena setelah negara menerima baik penolakanku, bajingan itu sendiri datang ke tempat kediamanku dan meminta dengan hormat supaya aku bersedia untuk membelanya."

"Lalu kamu terima?" potong pengacara tua itu tiba-tiba.
Pengacara muda itu terkejut. Ia menatap pengacara tua itu dengan heran.
"Bagaimana Anda tahu?"

Pengacara tua mengelus jenggotnya dan mengangkat matanya melihat ke tempat yang jauh. Sebentar saja, tapi seakan ia sudah mengarungi jarak ribuan kilometer. Sambil menghela napas kemudian ia berkata: "Sebab aku kenal siapa kamu."

Pengacara muda sekarang menarik napas panjang.
"Ya aku menerimanya, sebab aku seorang profesional. Sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela. Sebagai pembela, aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil-adilnya."

Pengacara tua mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
"Jadi itu yang ingin kamu tanyakan?"
"Antara lain."
"Kalau begitu kau sudah mendapatkan jawabanku."
Pengacara muda tertegun. Ia menatap, mencoba mengetahui apa yang ada di dalam lubuk hati orang tua itu.
"Jadi langkahku sudah benar?"
Orang tua itu kembali mengelus janggutnya.

"Jangan dulu mempersoalkan kebenaran. Tapi kau telah menunjukkan dirimu sebagai profesional. Kau tolak tawaran negara, sebab di balik tawaran itu tidak hanya ada usaha pengejaran pada kebenaran dan penegakan keadilan sebagaimana yang kau kejar dalam profesimu sebagai ahli hukum, tetapi di situ sudah ada tujuan-tujuan politik. Namun, tawaran yang sama dari seorang penjahat, malah kau terima baik, tak peduli orang itu orang yang pantas ditembak mati, karena sebagai profesional kau tak bisa menolak mereka yang minta tolong agar kamu membelanya dari praktik-praktik pengadilan yang kotor untuk menemukan keadilan yang paling tepat. Asal semua itu dilakukannya tanpa ancaman dan tanpa sogokan uang! Kau tidak membelanya karena ketakutan, bukan?"
"Tidak! Sama sekali tidak!"
"Bukan juga karena uang?!"
"Bukan!"
"Lalu karena apa?"
Pengacara muda itu tersenyum.
"Karena aku akan membelanya."
"Supaya dia menang?"

"Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar. Sebab kebenaran sejati, kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai. Kalah-menang bukan masalah lagi. Upaya untuk mengejar itu yang paling penting. Demi memuliakan proses itulah, aku menerimanya sebagai klienku."
Pengacara tua termenung.
"Apa jawabanku salah?"
Orang tua itu menggeleng.

"Seperti yang kamu katakan tadi, salah atau benar juga tidak menjadi persoalan. Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya, kamu akan berhasil keluar sebagai pemenang."

"Jangan meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh negara. Aku dengar sebuah tim yang sangat tangguh akan diturunkan."

"Tapi kamu akan menang."
"Perkaranya saja belum mulai, bagaimana bisa tahu aku akan menang."

"Sudah bertahun-tahun aku hidup sebagai pengacara. Keputusan sudah bisa dibaca walaupun sidang belum mulai. Bukan karena materi perkara itu, tetapi karena soal-soal sampingan. Kamu terlalu besar untuk kalah saat ini."

Pengacara muda itu tertawa kecil.
"Itu pujian atau peringatan?"
"Pujian."
"Asal Anda jujur saja."
"Aku jujur."
"Betul?"
"Betul!"

Pengacara muda itu tersenyum dan manggut-manggut. Yang tua memicingkan matanya dan mulai menembak lagi.
"Tapi kamu menerima membela penjahat itu, bukan karena takut, bukan?"

"Bukan! Kenapa mesti takut?!"
"Mereka tidak mengancam kamu?"
"Mengacam bagaimana?"
"Jumlah uang yang terlalu besar, pada akhirnya juga adalah sebuah ancaman. Dia tidak memberikan angka-angka?"

"Tidak."
Pengacara tua itu terkejut.
"Sama sekali tak dibicarakan berapa mereka akan membayarmu?"
"Tidak."
"Wah! Itu tidak profesional!"
Pengacara muda itu tertawa.
"Aku tak pernah mencari uang dari kesusahan orang!"
"Tapi bagaimana kalau dia sampai menang?"
Pengacara muda itu terdiam.
"Bagaimana kalau dia sampai menang?"
"Negara akan mendapat pelajaran penting. Jangan main-main dengan kejahatan!"
"Jadi kamu akan memenangkan perkara itu?"
Pengacara muda itu tak menjawab.
"Berarti ya!"
"Ya. Aku akan memenangkannya dan aku akan menang!"

Orang tua itu terkejut. Ia merebahkan tubuhnya bersandar. Kedua tangannya mengurut dada. Ketika yang muda hendak bicara lagi, ia mengangkat tangannya.

"Tak usah kamu ulangi lagi, bahwa kamu melakukan itu bukan karena takut, bukan karena kamu disogok."
"Betul. Ia minta tolong, tanpa ancaman dan tanpa sogokan. Aku tidak takut."

"Dan kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan, juga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu, bukan?"

"Betul."
"Kalau begitu, pulanglah anak muda. Tak perlu kamu bimbang.

Keputusanmu sudah tepat. Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan, seakan-akan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran. Tetapi semua rongrongan itu hanya akan menambah pujian untukmu kelak, kalau kamu mampu terus mendengarkan suara hati nuranimu sebagai penegak hukum yang profesional."

Pengacara muda itu ingin menjawab, tetapi pengacara tua tidak memberikan kesempatan.
"Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia."

Pengacara muda itu jadi amat terharu. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. Tetapi orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan.

"Pulanglah sekarang. Laksanakan tugasmu sebagai seorang profesional."
"Tapi..."

Pengacara tua itu menutupkan matanya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Sekretarisnya yang jelita, kemudian menyelimuti tubuhnya. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda.
"Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam."

Entah karena luluh oleh senyum di bibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu, pengacara muda itu tak mampu lagi menolak. Ia memandang sekali lagi orang tua itu dengan segala hormat dan cintanya. Lalu ia mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu, agar suaranya jangan sampai membangunkan orang tua itu dan berbisik.

"Katakan kepada ayahanda, bahwa bukti-bukti yang sempat dikumpulkan oleh negara terlalu sedikit dan lemah. Peradilan ini terlalu tergesa-gesa. Aku akan memenangkan perkara ini dan itu berarti akan membebaskan bajingan yang ditakuti dan dikutuk oleh seluruh rakyat di negeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung di udara. Dan semoga itu akan membuat negeri kita ini menjadi lebih dewasa secepatnya. Kalau tidak, kita akan menjadi bangsa yang lalai."

Apa yang dibisikkan pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. Tetapi itu pun belum cukup. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.

Pengacara tua itu terpagut di kursi rodanya. Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak di seluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.

"Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional, anakku," rintihnya dengan amat sedih, "Aku terus membuka pintu dan mengharapkan kau datang lagi kepadaku sebagai seorang putra. Bukankah sudah aku ingatkan, aku rindu kepada putraku. Lupakah kamu bahwa kamu bukan saja seorang profesional, tetapi juga seorang putra dari ayahmu. Tak inginkah kau mendengar apa kata seorang ayah kepada putranya, kalau berhadapan dengan sebuah perkara, di mana seorang penjahat besar yang terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat seperti bencana yang melanda negeri kita sekarang ini?" ***

Cirendeu 1-3-03